diengbeauty tour n organizer

Tampilkan postingan dengan label Dieng negeri diatas awan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dieng negeri diatas awan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Oktober 2016

Kronologi pengunungan dieng

Pegunungan Dieng yang berada di wilayah Kabupaten Batang, Banjar Negara, dan Wonosobo memiliki enam kawah, yakni Sileri, Sinila, Siglagah, Condrodimuko, Sikidang, dan Timbang. Erupsi tahun ini terjadi di Kawah Timbang yang berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara. "Aliran gas mengalir sejauh 50 meter ke arah selatan," ujar Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Senin, 30 Mei 2011.

Meningkatnya aktivitas Gunung Dieng yang disertai keluarnya gas beracun kali ini mengingatkan pada peristiwa yang terjadi pada 1979. Pada erupsi tahun itu, gas beracun yang dikeluarkan gunung ini menewaskan 149 orang.

Kompleks Gunung Berapi Dieng terletak di dataran tinggi Jawa Tengah. Selama beberapa abad, aktivitas gunung berapi di Dieng didominasi oleh letusan freatik dan aktivitas panas bumi (fumarol, solfataras, kolam lumpur, sumber air panas).


Gunung Dieng terkenal karena pelepasan karbon dioksida yang kadang-kadang menyebabkan kematian bagi penduduk. Emisi karbon dioksida dapat merusak vegetasi sekitarnya dan masyarakat setempat mengetahui "lembah kematian".

Pada Januari 2009, erupsi terjadi. Status Gunung Dieng dinaikan dari tingkat I ke siaga II setelah dua letusan freatik terjadi.

Pada Maret 1992, emisi gas beracun yang keluar dari Kawah Sikidang membunuh satu orang.

Yang paling mematikan adalah letusan 1979. Pada tahun ini, emisi karbon dioksida yang menyertai letusan freatik (letusan yang disebabkan pemanasan air di bawah tanah) menewaskan 149 orang.

Pada 1944, Gunung Dieng kembali meletus. Hujan abu dan lumpur terjadi di Desa Kepakisan, Sekalem, Sidolok, Pagerkandang, Djawera, dan Kepakisan-lor hingga gelap pekat. Setidaknya 59 orang tewas, 38 orang luka (sebagian luka bakar), dan 55 orang menghilang.

Sedangkan 1939, erupsi freatik terjadi. Retakan membentuk lereng dan menghasilkan pancaran lumpur.

Selebihnya, erupsi juga terjadi pada 1943, 1939, 1928, 1883-84, 1847, 1826, 1825, 1786, 1776, dan 1375.

Minggu, 09 Oktober 2016

Tragedi meletusnya kawah sinila, dieng

Kawasan Dieng dari dulu memang terkenal dengan keindahan alamnya yang sangat menakjubkan. Selain udaranya yang sejuk, di kawasan yang termasuk daerah vukanis aktif di Jawa Tengah ini juga memiliki pesona lain, seperti terdapat beberapa candi Hindu sampai dengan sensasi seperti sedang berada di negeri di atas awan.

Namun, dari keindahan alam Dieng tersebut, ada 2 tempat yang sangat berbahaya, yaitu Kawah Sinila dan Kawah Timbang yang berada di antara Desa Batur, Desa Sumberejo dan Desa Pekasiran, Kecamatan batur. Keduanya dilarang untuk dikunjungi siapapun karena sering mengeluarkan gas beracun.

Bahkan, pada hari Senin, tanggal 20 Februari 1979 silam, ada insiden yang terkenal dengan nama “Tragedi Sinila” pernah terjadi di daerah tersebut. Sayangnya, tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui akan tragedi yang menelan korban lebih dari 100 orang itu.

Menurut kesaksian beberapa penduduk sekitar yang selamat dari tragedi itu mengisahkan bahwa pada tanggal 19 Februari 1979 telah terjadi gempa di sekitar Kawah Timbang. Gempa kembali terjadi pada tanggal 20 Februari 1979 sekitar pukul 01.55, 02.40 dan 04.00 WIB di sekitar pegunungan Dieng.

Sekitar pukul 05.04 WIB, Kawah Sinila meletus hebat dan mengeluarkan lahar sekitar 15.000 kubik. Pada pukul 06.50, kawah baru Sigluduk yang terletak 250 meter dari sebelah barat Kawah Sinila mulai mengeluarkan asap tebal. Sontak saja, warga Desa Kepucukan langsung berlarian menyelamatkan diri untuk menghindari bencana tersebut.

Sayangnya, karena kurang koordinasi dan pengetahuan mengenai penanggulangan serta apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana, justru ratusan warga berusaha menyelamatkan diri ke arah barat yang mana di tempat tersebut ada Kawah Timbang yang juga sedang mengeluarkan gas beracun CO2 dan H2S akibat dari letusan Kawah Sinila itu.

Saat menyeberangi desa, gas beracun sudah terlanjur menyeruak dan satu persatu warga bertumbangan dan tewas di lokasi. Menurut data yang diperoleh dari berbagai sumber, ada 149 warga yang tewas karena menghirup gas beracun.

Rabu, 21 September 2016

Budaya lokal dataran tinggi dieng, sejuk dalam pelukan alam, hangat dalam tali persaudaraan

"Dieng" mungkin banyak di antara kalian yang telah tau itu dataran  dieng, "iya benar dieng adalah sebuah dataran tinggi tinggi di jawa tengah dan dataran tertinggi di pulau jawa yang di tinggali orang, banyak tempat yang indah dan menarik untuk di kunjungi di dieng, mungkin untuk teman teman backpaker, traveler dalam dan luar negeri sudah sangat familiar dan tau apa saja obyek yang menarik dan indah untuk di kunjungi di dieng, seperti, sunrise di bukit sikunir, telaga warna, ratapan batu pandang, kawah sikidang, komplek candi arjuna, atau obyek. wisata lain di dieng yang masih banyak lagi yang tersebar di dua kabupaten yakni wonosobo dan banjarnegara, selain itu juga dieng mempunyai wisata trekking gunung yang cukup menarik, seperti gunung prau, gunung paku wojo, gunung panggonan, gunung kendil, gunung cemeti, dan gunung bisma.
Lepas dari keindahan alam yang memanjakan mata dan menyejukan hati dan pikiran, mungkin belum banyak yang tau seperti apa kehidupan warga pribumi dieng, keseharian mereka, dan kehidupan sosial adat istiadat setempat.
So!!! jadi saya sendiri sebagai pemuda yang dari lahir dan besar di daerah datatan tinggi dieng akan mengulas tentang keseharian, budaya, adat, atau pun hal hal yang unik di dataran tinggi dieng, tentunya study reverensi ataupun supjek saya ambil cerita dari, sesepuh desa, orang orang tua dan cerita rakyat di dataran tinggi dieng yang saya kemas seringan mungkin dan sesederhana mungkin agar lebih mudah di fahami semua kalagan.
Kembali ke topik sebelumnya, tentang keseharian warga dieng, dataran tinggi dieng adalah penghasil sayuran berkualitas, dengan linkub pemasaran daerah pulau jawa dan sekitarnya, dan komoditi utamanya adalah kentang, kubis, wortel, daun bawang, sledri, cabai, dll, bisa di bilang dieng adalah gudangnya sayuran untuk kawasan jawa tengah dengan mayoritas 90 % warganya adalah petani sayur mayur dan sisanya berniaga, dan memanfaatkan dari sektor pariwisata.
Ini adalah berkah yang luar biasa dari allah swt., di berkai bumi yang subur, udara yang sejuk dan alam yang indah dan tak henti kami warga dieng bersyukur kepada allah swt. Atas apa yang telah di berikan kepada kami di sini.
"AREP KETEKANAN MUSIBAH APA ORA TERGANTUNG MENUNGSANE" atau dalam bahasa indonesia "Segala seuatu akan kembali kepadamu" atau akan terjadi bencana atau tidak itu tergantung dari manusia itu sendiri", mungkin itu istilah yang sangat familiar terdengar ketika seseorang ataupun rombongan berwisata ke dieng, memang demikian broo!!!, sederhananya adalah kita sebagai mahluk hidup yang beragama dan bersosialisasi haruslah hidup dalam tatanan dan tuntunan sebagaimana yang baik dan menginggalkan yang buruk menurut agama masing masing, karena sebagai umat beragama patutlah kita taat dengan apa yang boleh dan apa yang dilarang, dan apa akibatnya jika sesuatu yang melampoi batas kewajaran sebagai manusia pasti akan ada akibat bagi kita sendiri, dan murka dari alam yang kita tinggali akibat kita lupa bersyukur dan tak mau menjalankan apa yang di perintahkan yang maha kuasa kepada kita, orang tua pun selalu bercerita dengan bukti kejadian dieng jaman dahulu, seperti kejadian  jebolnya gas beracun di desa pucukan di tahun delapanpuluan dan kalau mundur ke belakang lagi adalah cerita dimana dulu desa legentang yang tertimbun longsor gunung pengamun amun di era tahun enam puluhan, dan menurut cerita orang tua jaman dahulu warga di situ rata rata keaeharian warganya berbuat di luar batas kewajaran sebagai mana mestinya.
Hubugan persaudaraan kami erat, mungkin karena ligkup dieng itu adalah pedesaan  yang masih sangat menghargai, menghormati satu dengan yang lainya, dan di sisi lain ada cerita kalau dahulu dieng awalnya hanya ada tiga pasang manusia yang tinggal di dieng, dan anggapan kita adalah semua masih "sedulur" sodara dan kerabat sendiri.
Ini hanya sekilas tentang dieng, masih banyak yang akan saya ceritakan tentang dataran tinggi dieng, dari adat, budaya, keseharian cerita masyarakat dataran tinggi dieng, hal hal baru yang menarik di sini, jadi ikuti kita terus guys bersama kami Dieng beauty.

https://www.instagram.com/diengbeauty

< Sebelumnya
Selanjutnya >

https://www.instagram.com/DIENGBEAUTY/

Hasil penelusuran